RAKYATMRERAHPUTIH – Di tengah pesatnya perkembangan e-sport di Indonesia, Provinsi Bengkulu masih menghadapi tantangan dalam mencetak atlet berprestasi. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) pun mengakui bahwa capaian daerah dalam cabang olahraga ini masih perlu ditingkatkan.
Sekretaris Dispora Provinsi Bengkulu, Mike Van Hove, mengungkapkan bahwa meskipun potensi atlet sudah mulai terlihat, namun belum ada yang mampu menembus level kompetisi tertinggi seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Kalau atlet sudah ada, tapi untuk yang mewakili Provinsi Bengkulu di level tertinggi seperti PON, memang belum ada yang berprestasi,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan e-sport di Bengkulu masih berada pada tahap awal. Dibandingkan daerah lain yang sudah lebih dulu maju, Bengkulu masih membutuhkan banyak pembenahan, terutama dalam hal pembinaan dan kompetisi.
Padahal, secara nasional, e-sport telah berkembang pesat dan mendapat pengakuan luas. Cabang ini bahkan sudah menjadi bagian dari ajang internasional seperti SEA Games dan Asian Games.
Namun di Bengkulu, tantangan tidak hanya soal prestasi, tetapi juga terbatasnya ruang kompetisi bagi atlet muda. Hingga saat ini, e-sport belum dipertandingkan dalam ajang seperti Pra-Popnas maupun Popnas. Hal ini membuat atlet pelajar kesulitan untuk mengukur kemampuan dan mendapatkan pengalaman bertanding.
Meski begitu, Dispora Bengkulu tidak tinggal diam. Berbagai langkah awal telah dilakukan, salah satunya dengan memfasilitasi pelajar yang memiliki minat di bidang e-sport. Pembinaan ini difokuskan pada usia muda sebagai investasi jangka panjang.
Dispora juga telah menyediakan fasilitas latihan di GOR sebagai tempat bagi para pelajar untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan. Namun, Mike menegaskan bahwa fasilitas saja tidak cukup tanpa dukungan sistem pembinaan yang kuat.
“Pembinaan harus berkelanjutan. Tidak cukup hanya menyediakan tempat, tapi juga perlu ada pelatih, kompetisi, dan dukungan dari berbagai pihak,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan e-sport juga memerlukan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk sekolah, komunitas, hingga organisasi olahraga seperti KONI. Tanpa kolaborasi, sulit bagi Bengkulu untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain.
Di sisi lain, minat generasi muda terhadap e-sport sebenarnya cukup tinggi. Hal ini menjadi modal penting yang harus dimanfaatkan dengan baik. Jika diarahkan secara benar, potensi tersebut bisa berkembang menjadi prestasi.
Dispora berharap ke depan e-sport dapat masuk dalam lebih banyak ajang kompetisi resmi, sehingga atlet Bengkulu memiliki kesempatan untuk berkembang dan bersaing.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Dispora Bengkulu menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan e-sport. Targetnya tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar mampu melahirkan atlet yang berprestasi.
Ini masih proses. Tapi kami optimistis, kalau dibina dengan serius, Bengkulu juga bisa bersaing,” tutup Mike.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









