Leman Jais Antara Taman Bacaan dan Guru Ngaji yang Tidak Pernah Lelah Mengajar

- Jurnalis

Minggu, 23 November 2025 - 22:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perjalanan Leman Jais Mencari Cinta (foto: ilustrasi)

Perjalanan Leman Jais Mencari Cinta (foto: ilustrasi)

Perjalanan Leman Jais Mencari Cinta (01)
Catatan : Riswan

DI DUSUN Lubuk Siang, nama Leman Jais dikenal seperti kopi hitam tanpa gula, apa adanya, kuat dan bikin melek. Ia bukan pejabat, bukan juga tokoh terkenal. Tapi kalau soal akal, Leman Jais sering unggul dari rapat desa mana pun. Suatu hari, ia melihat anak-anak lebih rajin main gawai dari membaca. Guru ngaji pun mulai mengeluh, santri makin sedikit hadir, tapi jumlah stik cilok di warung makin meningkat. “Ini ada yang salah,” kata Leman, sambil menyeruput kopi seolah sedang rapat kabinet.

Lalu lahirlah ide besar taman bacaan, guru ngaji dan ngopi. Konsepnya sederhana tapi jitu. Leman mengumpulkan buku bekas dari sekolah, sumbangan ustadz sampai majalah pertanian. Ia gabungkan dengan jadwal ngaji sore. Setelah ngaji, anak-anak boleh membaca dan minum susu dan para guru ngaji mendapat kopi atau susu gratis.

Baca Juga :  Refleksi 307 Tahun Kota Bengkulu: Melampaui Seremoni, Mewujudkan Tata Kelola Berkelanjutan

Santri jadi betah, guru ngaji ikut senang. Jumlah anak yang datang melonjak dari 12 menjadi 41 santri hanya dalam tiga bulan. Toko fotokopi desa bahkan sampai kewalahan karena Leman terus minta buat “lembar hafalan cepat”. Desa pun ramai lagi, bukan karena konser, tapi karena taman baca yang dibangun dari niat baik dan ide yang tak pernah habis.

Yang paling lucu, Leman membuat aturan siapa rajin ngaji dan membaca, boleh pinjam sepeda tuanya selama dua jam. Anak-anak menyebutnya “bike sharing versi dusun”, tanpa aplikasi, tanpa deposit, cuma modal disiplin.

Baca Juga :  Gelap Perang

Dari tangan seorang lelaki sederhana, Leman Jais membuktikan bahwa perubahan besar sering dimulai dari tikar kecil, mushola, buku lusuh dan segelas kopi panas. Ia menunjukkan bahwa membangun desa tidak butuh rumit cukup niat, kreatif dan hati yang tidak pernah capek berbuat baik.

Di tangan Leman Jais, perubahan tidak selalu butuh menunggu. Kadang cukup satu gubuk buku, semangat gotong royong dan keberanian berpikir beda. Dengan langkah kecil tapi konsisten, desa bisa tumbuh lebih cerdas, lebih religius, dan lebih sejahtera. Sebab, menurut Leman Jais, “Kalau cahaya ilmu sudah hidup, jalan ekonomi pasti ikut terang.”

Berita Terkait

Refleksi 307 Tahun Kota Bengkulu: Melampaui Seremoni, Mewujudkan Tata Kelola Berkelanjutan
Gelap Perang
Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional
PANGGUNG YANG KINI BERNAMA PRABOWO
Refleksi Akhir Tahun 2025: #EreksiKebangsaan DI TENGAH BADAI STRUKTURAL
Bank Raya Perkuat Transformasi Digital Lewat Fitur Uang Saku untuk Kendali Transaksi Anak
Solusi Tata Ruang Kota untuk Mengatasi Kemacetan di Kota Metropolitan
Air Mata Dibalik Penjara Dua Guru
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 21:49 WIB

Refleksi 307 Tahun Kota Bengkulu: Melampaui Seremoni, Mewujudkan Tata Kelola Berkelanjutan

Selasa, 3 Maret 2026 - 16:48 WIB

Gelap Perang

Jumat, 9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional

Rabu, 31 Desember 2025 - 16:13 WIB

PANGGUNG YANG KINI BERNAMA PRABOWO

Senin, 29 Desember 2025 - 13:10 WIB

Refleksi Akhir Tahun 2025: #EreksiKebangsaan DI TENGAH BADAI STRUKTURAL

Berita Terbaru