Tantangan Logistik MBG Bengkulu di Masa Libur Sekolah: Ujian Tata Kelola Distribusi Gizi

- Jurnalis

Senin, 22 Desember 2025 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Gubernur Bengkulu , Mian saat memantau Program MBG

Wakil Gubernur Bengkulu , Mian saat memantau Program MBG

RAKYATMERAHPUTIH – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Bengkulu selama libur sekolah bukan hanya soal ketegasan pemerintah menjaga layanan, tetapi juga menjadi ujian bagi tata kelola distribusi dan kesiapan logistik. Program itu memastikan bahwa lebih dari 200 ribu penerima manfaat, dari balita hingga ibu hamil, tetap memperoleh asupan gizi, meski aktivitas sekolah dihentikan.

Kepastian pelaksanaan itu disampaikan Kepala Regional SPPG Provinsi Bengkulu, Gloria Sitomorang. Ia menegaskan mekanisme distribusi selama libur dilakukan melalui pengantaran terjadwal setiap Senin dan Kamis. Sementara pada hari lain, paket makanan kering dikirim menggantikan ompreng biasa.

“Gizinya tetap sama, hanya cara distribusinya yang berbeda,” kata Gloria.

Namun, implementasi sistem baru di masa libur membuka tantangan di lapangan. Pertama, soal koordinasi dengan sekolah. Tidak semua sekolah memiliki tenaga atau kesiapan logistik untuk menyalurkan makanan saat libur. Guru yang biasanya menjadi penghubung dengan orang tua tak selalu tersedia.

“Ada guru yang mengatakan tidak mampu mengoordinir saat libur,” ujarnya.

Situasi itu memaksa SPPG membuat kesepakatan. Penyaluran dilakukan hanya di sekolah dan wali murid yang menyatakan kesediaan. Mereka menandatangani berita acara kesepakatan, termasuk terkait jenis paket makanan yang diperoleh.

Baca Juga :  iklon Tropis 91S Ganggu Cuaca Sumatra, Bengkulu Bersiap Hadapi Hujan Lebat

“Jika tidak disetujui, paket tidak disalurkan,” tegas Gloria.

Mekanisme ini berpotensi menimbulkan kesenjangan. Sebagian besar pihak memahami keterbatasan sekolah dan guru, namun di sisi lain publik mempersoalkan apakah program layanan dasar seperti MBG seharusnya bergantung pada kesediaan sekolah. Jika distribusi logistik mampu diperkuat, seharusnya program tidak bergantung pada kesiapan pihak lain yang tidak memiliki tugas utama sebagai pelaksana distribusi.

Dalam skala provinsi, MBG kini mencakup lebih dari 200 ribu penerima. Angka ini meningkat dibanding libur sebelumnya. Lonjakan ini menguji sistem distribusi, mulai dari kendaraan pengantar, tenaga lapangan, hingga fasilitas penyimpanan. Paket kering membutuhkan ruang penyimpanan besar, sedangkan makanan siap saji memerlukan kecepatan distribusi. Keduanya menuntut perencanaan matang.

Sumber daya manusia SPPG yang bertambah justru menjadi faktor penentu. Meski demikian, belum semua wilayah memiliki dukungan logistik memadai. Daerah pinggiran, terutama di kabupaten dengan akses terbatas, adalah titik rawan evaluasi. Jika antisipasi tidak dilakukan, keterlambatan penyaluran atau ketidaksesuaian paket bisa terjadi.

Program ini juga menguji koordinasi dengan pemerintah daerah. Selama ini, peran pemerintah daerah dianggap vital dalam memfasilitasi distribusi. Dalam libur sekolah, koordinasi itu menjadi lebih berat karena sekolah, yang biasanya menjadi kantor distribusi—tidak beroperasi.

Baca Juga :  Persaingan Ketat dan Doorprize Menarik Warnai Lomba Burung HUT ke-80 Korem 041/Gamas

Dalam konteks tata kelola, program ini menunjukkan dua sisi: pemerintah ingin program tetap berjalan, namun sistem pendukung belum sepenuhnya adaptif. Pengalaman libur sebelumnya dinilai kondusif, tetapi cakupan kali ini lebih besar. Perbandingan rawan menimbulkan bias. Jika libur Juni melibatkan penerima lebih sedikit, maka libur akhir tahun menjadi eksperimen besar pertama.

Pada akhirnya, pelaksanaan MBG di masa libur menjadi cermin kesiapan pemerintah menghadapi distribusi berskala besar. Keberhasilannya akan memperkuat kepercayaan publik. Sebaliknya, jika hambatan logistik tidak diantisipasi, program bisa kehilangan efektivitas di tengah semangat keberlanjutannya.

Gloria berharap pelaksanaan tetap kondusif. Namun publik menunggu lebih dari itu: kepastian bahwa tata kelola distribusi siap menghadapi skala besar tanpa bergantung pada pihak lain yang tidak didesain untuk menangani logistik.

MBG selama libur sekolah, dengan segala tantangannya, adalah momentum refleksi. Program ini bukan hanya tentang memberi makan, melainkan menunjukkan apakah sistem distribusi pangan publik mampu bekerja dalam kondisi tidak ideal.

Berita Terkait

Haornas ke-43, Pemprov Bengkulu Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup
Pemprov Bengkulu Percepat Manajemen Talenta, Empat Kursi Kepala OPD Masih Kosong
Selisih Harga BBM Tekan Pertashop, HPMPI Dorong Subsidi Lebih Tepat Sasaran
SPI 2025 Jadi Alarm Pembenahan, Pemprov Bengkulu Perkuat Integritas OPD
Dikbud Kota Bengkulu Warning Sekolah Jangan Abaikan Potensi Siswa Berprestasi
Konflik Guru SDIT Rabbani Bengkulu Mencuat ke Disnaker, Ada Persoalan BPJS
Syukuran Sederhana Warnai 81 Tahun Pengabdian Kejaksaan di Bengkulu
Ziarah di TMP Balai Buntar, Kajati Bengkulu Tekankan Integritas dan Pengabdian
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 17:08 WIB

Haornas ke-43, Pemprov Bengkulu Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup

Rabu, 9 September 2026 - 17:02 WIB

Pemprov Bengkulu Percepat Manajemen Talenta, Empat Kursi Kepala OPD Masih Kosong

Selasa, 8 September 2026 - 18:24 WIB

Selisih Harga BBM Tekan Pertashop, HPMPI Dorong Subsidi Lebih Tepat Sasaran

Selasa, 8 September 2026 - 17:51 WIB

SPI 2025 Jadi Alarm Pembenahan, Pemprov Bengkulu Perkuat Integritas OPD

Kamis, 3 September 2026 - 17:03 WIB

Konflik Guru SDIT Rabbani Bengkulu Mencuat ke Disnaker, Ada Persoalan BPJS

Berita Terbaru

Nasional

Giliran Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 7 Sep 2026 - 15:57 WIB