Di Kabupaten Empat Lawang Gas Elpiji 3 Kg Hilang dari Pasaran, Mahasiswa Desak Pemerintah Bertindak

- Jurnalis

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang jelang Ramadan menjadi sorotan serius. Harga melonjak hingga Rp50 ribu, mahasiswa kritik lemahnya pengawasan distribusi dan desak pemerintah segera bertindak.

Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang jelang Ramadan menjadi sorotan serius. Harga melonjak hingga Rp50 ribu, mahasiswa kritik lemahnya pengawasan distribusi dan desak pemerintah segera bertindak.

RAKYATMERAHPUTIH – Sebulan menjelang Ramadan, persoalan kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang bukan lagi sekadar keluhan warga, melainkan alarm keras atas tata kelola distribusi barang bersubsidi. Tabung gas melon yang selama ini menjadi penopang dapur masyarakat kecil mendadak sulit ditemukan. Kalaupun ada, harganya melambung hingga Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per tabung.

Lonjakan harga hampir dua kali lipat dari harga normal ini menimbulkan tanda tanya besar, di mana letak pengawasan? Mengapa kelangkaan bisa berlangsung hingga berminggu-minggu tanpa solusi yang jelas?

Kondisi ini paling terasa di kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Bagi mereka, gas elpiji 3 kg bukan barang alternatif, melainkan kebutuhan pokok. Ketika pasokan tersendat dan harga melonjak, yang tercekik bukan hanya rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha mikro yang menggantungkan penghasilan dari usaha kuliner rumahan.

“Kalau dibiarkan seperti ini, masyarakat kecil yang paling dirugikan. Pemerintah harus transparan dan tegas mengawasi distribusi,” kata aktivis mahasiswa Empat Lawang, Ade Kelpin.

Menurut Ade, kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang tidak bisa dianggap sebagai fenomena musiman menjelang hari besar keagamaan. Ia menilai ada persoalan struktural dalam sistem distribusi dan pengawasan.

Baca Juga :  Warga Lebong Diduga Jadi Korban TPPO

“Hingga kini belum terlihat langkah konkret untuk memastikan pasokan kembali normal. Masyarakat butuh tindakan, bukan sekadar imbauan,” ujarnya.

Persoalan distribusi menjadi sorotan utama. Gas elpiji 3 kg adalah barang bersubsidi yang seharusnya terkontrol ketat dari agen hingga pangkalan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Di sejumlah wilayah, pangkalan mengaku stok terbatas. Sementara di tingkat pengecer, harga sudah jauh melampaui kewajaran.

Kondisi ini berpotensi memicu efek domino. Jika harga kebutuhan produksi naik, maka harga jual produk ikut terdongkrak. Pada akhirnya, daya beli masyarakat yang sudah terbatas akan semakin tertekan. Situasi ini ironis, mengingat gas elpiji 3 kg dirancang sebagai bentuk perlindungan negara bagi kelompok rentan.

Ade Kelpin mempertanyakan sejauh mana Pemerintah Kabupaten Empat Lawang melakukan monitoring. Ia mendesak adanya audit distribusi untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan atau penyimpangan.

“Kalau distribusinya lancar dan diawasi ketat, tidak mungkin terjadi kelangkaan berkepanjangan seperti ini. Pemerintah harus berani mengevaluasi sistem yang ada,” tegasnya.

Baca Juga :  Retreat Merah Putih: Jalan Sunyi Membentuk ASN Beriman dan Berhati Nurani

Dalam konteks tata kelola pemerintahan, krisis elpiji ini menjadi ujian nyata. Pemerintah daerah tidak cukup hanya menunggu suplai datang dari tingkat atas. Koordinasi aktif dengan distributor, pengawasan lapangan, hingga penindakan terhadap pelanggaran harus dilakukan secara terbuka dan terukur.

Transparansi juga menjadi tuntutan publik. Masyarakat berhak mengetahui apakah kuota elpiji untuk Empat Lawang berkurang, terlambat distribusi, atau ada hambatan lain. Tanpa penjelasan yang jelas, ruang spekulasi akan semakin melebar.

Mahasiswa berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret: memperketat pengawasan pangkalan, memastikan distribusi tepat sasaran, serta mengendalikan harga agar kembali stabil. Jika perlu, lakukan inspeksi mendadak dan buka posko pengaduan agar masyarakat memiliki saluran resmi untuk melaporkan keluhan.

Kritik yang dilayangkan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai pengingat bahwa gas bersubsidi adalah hak masyarakat kecil. Pemerintah dituntut hadir secara nyata—bukan hanya dalam retorika, tetapi melalui kebijakan yang terasa langsung manfaatnya.

“Kritikan kami merupakan pengingat pemerintah bahwa ada persaolan mendesak yang segara diselesaikan,”  kata Aktivis HMI ini.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Lindungi Keuangan Perusahaan, CV Mandiri Sejahtera Gugat Sisa Pengembalian Rp1,3 Miliar
5 Truk Bermuatan Puluhan Ton Batu Bara Disita, Polda Bengkulu Perangi Tambang Ilegal
Datangkan KH ES Mubarok, Bengkulu Tengah Perkuat Nuansa Religi dalam Perayaan HUT ke-18
10 Ribu Bibit Sawit Siap Disalurkan, Kelompok Tani Bengkulu Juga Dapat Bantuan Kopi dan Cabai
Gaji PPPK Ditanggung APBN, Balikota Bidik Jalan Mulus hingga Drainase Jadi Prioritas
Hanya Petani Terdaftar RDKK yang Bisa Tebus Pupuk Subsidi, Pemprov Perketat Pengawasan
Nobar Piala Dunia, Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan ajak masyarakat menjaga suasana tetap kondusif
Dugaan Aset dan Gaya Hidup Mewah Jadi Dasar Laporan TPPU CV Mandiri Sejahtera
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 00:57 WIB

Lindungi Keuangan Perusahaan, CV Mandiri Sejahtera Gugat Sisa Pengembalian Rp1,3 Miliar

Rabu, 17 Juni 2026 - 23:47 WIB

5 Truk Bermuatan Puluhan Ton Batu Bara Disita, Polda Bengkulu Perangi Tambang Ilegal

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:05 WIB

Datangkan KH ES Mubarok, Bengkulu Tengah Perkuat Nuansa Religi dalam Perayaan HUT ke-18

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:37 WIB

10 Ribu Bibit Sawit Siap Disalurkan, Kelompok Tani Bengkulu Juga Dapat Bantuan Kopi dan Cabai

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:34 WIB

Gaji PPPK Ditanggung APBN, Balikota Bidik Jalan Mulus hingga Drainase Jadi Prioritas

Berita Terbaru