Dapur Rakyat Terancam Padam, Aktivis HMI Desak Pemerintah Empat Lawang Bertindak, Harga LPG 3 Kg Melambung 

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 00:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RAKYATMERAHPUTIH – Empat Lawang kembali dipaksa menelan pil pahit. Menjelang Ramadan yang seharusnya menjadi momentum menenangkan hati dan mempererat kebersamaan, warga justru dihadapkan pada persoalan mendasar: kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon. Di sejumlah kecamatan, pangkalan resmi memasang tulisan “Gas Kosong”. Sementara di warung kecil, harga melambung tak terkendali.

Kondisi ini bukan sekadar gangguan distribusi biasa. Ini adalah persoalan hajat hidup orang banyak. Gas bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan pelaku usaha kecil. Namun di lapangan, yang terjadi justru sebaliknya: rakyat kecil tercekik, sementara dugaan permainan harga menguat.

Aktivis muda yang juga kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Alha, menyebut situasi ini sebagai kegagalan serius pengawasan distribusi. Ia menilai pemerintah daerah tidak boleh lagi bersembunyi di balik alasan klasik seperti “stok aman” atau “kendala teknis”.

“Kita bicara soal kebutuhan dasar. Gas 3 kg ini menyangkut dapur rakyat. Kalau barangnya langka dan harganya melonjak sampai Rp35 ribu hingga Rp45 ribu, ini jelas ada yang tidak beres. Jangan sampai rakyat terus jadi korban,” tegas Alha, Jumat (20/02/2026).

Baca Juga :  Tim Legal CV Mandiri Sejahtera Bongkar Dugaan Aliran Dana Rp3,7 Miliar, Bantahan Terdakwa Dinilai Tak Sejalan dengan Fakta Audit

Menurutnya, selisih harga yang terlalu jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi indikator kuat adanya persoalan di rantai distribusi. Jika HET sudah ditetapkan, namun harga di pengecer bisa melambung hampir dua kali lipat, maka pertanyaannya sederhana: di mana pengawasan?

Alha menilai kelangkaan ini bukan hanya berdampak pada ibu rumah tangga, tetapi juga memukul pelaku UMKM seperti pedagang gorengan, warung makan, hingga usaha rumahan yang bergantung penuh pada gas bersubsidi. Ketika harga naik drastis, mereka terpaksa memilih antara menaikkan harga jual atau menanggung kerugian.

“UMKM ini tulang punggung ekonomi daerah. Kalau mereka dipaksa beli gas mahal, otomatis harga makanan naik. Ujung-ujungnya masyarakat juga yang terbebani,” ujarnya.

Di sejumlah titik, warga terpantau berkeliling membawa tabung kosong, berharap ada distribusi masuk. Antrean panjang menjadi pemandangan yang kembali terulang. Ironisnya, situasi ini terjadi hampir setiap menjelang hari besar keagamaan. Seolah-olah kelangkaan telah menjadi ritual tahunan yang tak pernah benar-benar diselesaikan.

Kritik keras juga diarahkan pada lemahnya transparansi data distribusi. Berapa kuota yang masuk ke Empat Lawang? Berapa pangkalan aktif? Bagaimana pola pengawasannya? Pertanyaan-pertanyaan itu hingga kini belum dijawab secara terbuka kepada publik.

Baca Juga :  D’GENDIZ Padel Court and Coffee Hidupkan Aktivitas Ekonomi di Mega Mall Bengkulu

“Kalau distribusi berjalan normal, kenapa pangkalan kosong? Kalau stok aman, kenapa rakyat kesulitan? Pemerintah jangan hanya menyampaikan pernyataan normatif. Tunjukkan data dan langkah konkret,” kata Alha.

Ia mendesak pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk melakukan sidak menyeluruh, menelusuri kemungkinan penimbunan atau permainan di tingkat agen dan pengecer. Selain itu, perlu ada evaluasi serius terhadap sistem distribusi agar tidak terus berulang setiap tahun.

Keresahan masyarakat kini berada di titik jenuh. Ramadan seharusnya menjadi bulan penuh berkah, bukan bulan penuh kecemasan mencari bahan bakar untuk memasak sahur dan berbuka. Jika dapur rakyat padam, maka stabilitas sosial pun terancam.

Alha menegaskan, mahasiswa dan elemen masyarakat sipil akan terus mengawal persoalan ini hingga ada solusi nyata.

“Kami tidak ingin janji. Kami ingin tindakan. Jangan tunggu gejolak sosial baru pemerintah bergerak,” tegasnya.

Berita Terkait

Haornas ke-43, Pemprov Bengkulu Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup
Pemprov Bengkulu Percepat Manajemen Talenta, Empat Kursi Kepala OPD Masih Kosong
Selisih Harga BBM Tekan Pertashop, HPMPI Dorong Subsidi Lebih Tepat Sasaran
SPI 2025 Jadi Alarm Pembenahan, Pemprov Bengkulu Perkuat Integritas OPD
Dikbud Kota Bengkulu Warning Sekolah Jangan Abaikan Potensi Siswa Berprestasi
Konflik Guru SDIT Rabbani Bengkulu Mencuat ke Disnaker, Ada Persoalan BPJS
Syukuran Sederhana Warnai 81 Tahun Pengabdian Kejaksaan di Bengkulu
Ziarah di TMP Balai Buntar, Kajati Bengkulu Tekankan Integritas dan Pengabdian
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 17:08 WIB

Haornas ke-43, Pemprov Bengkulu Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup

Rabu, 9 September 2026 - 17:02 WIB

Pemprov Bengkulu Percepat Manajemen Talenta, Empat Kursi Kepala OPD Masih Kosong

Selasa, 8 September 2026 - 18:24 WIB

Selisih Harga BBM Tekan Pertashop, HPMPI Dorong Subsidi Lebih Tepat Sasaran

Selasa, 8 September 2026 - 17:51 WIB

SPI 2025 Jadi Alarm Pembenahan, Pemprov Bengkulu Perkuat Integritas OPD

Kamis, 3 September 2026 - 17:03 WIB

Konflik Guru SDIT Rabbani Bengkulu Mencuat ke Disnaker, Ada Persoalan BPJS

Berita Terbaru

Nasional

Giliran Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 7 Sep 2026 - 15:57 WIB