RAKYATMERAHPUTIH – Pemerintah Provinsi Bengkulu terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran rabies dengan memfokuskan vaksinasi di daerah yang memiliki risiko tinggi. Langkah ini dilakukan untuk melindungi masyarakat sekaligus menekan potensi penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Veteriner Disnakkeswan Bengkulu, Indah Permatasari, menegaskan bahwa rabies masih menjadi ancaman serius yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, penanganan penyakit ini harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Rabies merupakan penyakit zoonosis yang bisa menular dari hewan ke manusia. Karena itu, penanganannya tidak bisa setengah-setengah,” ujar Indah, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Bengkulu tetap mengalokasikan anggaran untuk pengadaan vaksin rabies setiap tahun. Namun, jumlah vaksin yang tersedia masih terbatas karena adanya penyesuaian anggaran daerah.
Untuk tahun 2026, sekitar 2.000 dosis vaksin telah direncanakan. Saat ini, proses pengadaan masih menunggu persetujuan dari pihak terkait, khususnya dari Pengelola Keuangan Daerah (PPKAD).
“Kalau sudah disetujui, pengadaan vaksin akan langsung kita realisasikan,” jelasnya.
Selain mengandalkan anggaran daerah, Disnakkeswan Bengkulu juga aktif berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan ketersediaan vaksin tetap terjaga. Upaya ini penting agar tidak terjadi kekosongan stok di lapangan.
Hasil koordinasi tersebut, sebelum Ramadan lalu Bengkulu telah menerima bantuan 2.000 dosis vaksin rabies dari Direktorat Kesehatan Hewan. Bantuan ini menjadi tambahan penting dalam mendukung program vaksinasi di daerah.
Vaksin yang tersedia kemudian langsung didistribusikan ke lima wilayah prioritas, yakni Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Mukomuko, dan Lebong.
Kelima daerah ini dipilih karena memiliki populasi hewan penular rabies yang cukup tinggi, sehingga dinilai berisiko besar terhadap penyebaran penyakit.
“Wilayah tersebut memang menjadi fokus utama karena tingkat risikonya tinggi. Jadi vaksinasi kita prioritaskan di sana,” kata Indah.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









