Harga Sawit Turun, Harga Pupuk Naik, Petani Bengkulu Mengeluh

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang Petani Sawit sedang memikul tandan buah sawit. Ia memikul beban besar disaat harga pupuk naik harga sawit terjun bebas.

Seorang Petani Sawit sedang memikul tandan buah sawit. Ia memikul beban besar disaat harga pupuk naik harga sawit terjun bebas.

RAKYATMERAHPUTIH – Petani sawit di Provinsi Bengkulu kini menghadapi tekanan ganda. Di tengah turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS), biaya produksi justru mengalami kenaikan signifikan.

Ketua Aliansi Petani Sawit Provinsi Bengkulu, Edi Mashury, mengatakan kondisi tersebut membuat petani semakin kesulitan bertahan. Ia menyebut harga sawit saat ini turun tajam setelah muncul rencana kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN.

“Di tingkat RAM sekarang harga hanya sekitar Rp1.500 per kilogram. Padahal sebelumnya masih di kisaran Rp2.600 sampai Rp2.700,” ujar Edi.

Baca Juga :  Pemprov Bengkulu: Jangan Tergiur Gaji Besar, Cek ke Disnakertrans

Menurutnya, penurunan harga terjadi sangat cepat setelah pidato Presiden Prabowo terkait tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.

Namun masalah petani tidak berhenti di situ. Harga pupuk dan bahan penunjang pertanian juga melonjak tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Edi mengungkapkan harga boraks yang sebelumnya sekitar Rp460 ribu kini naik menjadi Rp1,3 juta. Kenaikan tersebut semakin membebani petani sawit yang pendapatannya sedang turun.

“Petani sekarang benar-benar terpukul. Harga jual turun, biaya produksi malah naik,” katanya.

Ia menilai sektor hulu atau petani selalu menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi perubahan kebijakan nasional di bidang perdagangan dan ekspor.

Baca Juga :  Telan Anggaran Rp14,4 Miliar, Pengawasan Proyek Jalan Mukomuko Terus Dikawal Andy Suhary

Meski demikian, Edi mengakui pemerintah memiliki niat baik untuk memperbaiki tata kelola ekspor dan mencegah kebocoran penerimaan negara. Namun ia berharap pemerintah juga mempertimbangkan dampak langsung terhadap petani di daerah.

Menurutnya, sawit merupakan sektor yang melibatkan jutaan tenaga kerja dan menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Jangan sampai petani menjadi korban dari kebijakan yang sebenarnya bertujuan baik,” tutupnya.

Berita Terkait

Bekal dari Pelabuhan untuk Kampus, GM Pelindo Bengkulu Ajak Mahasiswa UNIB Bermimpi Besar
Dorong Tata Kelola Transparan, Kejati Bengkulu dan Pelindo Lanjutkan Kerja Sama Hukum
Pemprov Bengkulu Matangkan Verval KDMP, Siapkan Penandatanganan Serentak
Kekerasan Anak Tak Hanya Luka Fisik, Kejati Bengkulu Ajak Masyarakat Lebih Peka
Truk Batu Bara Tak Lewat Padang Serai, Pemprov Bengkulu Siapkan Kajian Jalur Khusus
Stok Pemerintah Makin Kuat, BULOG Genjot Penyerapan Hasil Panen Petani
PHRI Bengkulu Warning Satpol PP soal Sidak Hotel: Jangan Tanya Izin di Lapangan
Proses SK Perpanjangan Selesai Bulan Ini, BKD Fokus Optimalisasi PPPK Paruh Waktu
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Bekal dari Pelabuhan untuk Kampus, GM Pelindo Bengkulu Ajak Mahasiswa UNIB Bermimpi Besar

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Dorong Tata Kelola Transparan, Kejati Bengkulu dan Pelindo Lanjutkan Kerja Sama Hukum

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Pemprov Bengkulu Matangkan Verval KDMP, Siapkan Penandatanganan Serentak

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Kekerasan Anak Tak Hanya Luka Fisik, Kejati Bengkulu Ajak Masyarakat Lebih Peka

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Stok Pemerintah Makin Kuat, BULOG Genjot Penyerapan Hasil Panen Petani

Berita Terbaru