RAKYATMEEAHPUTIH – Inflasi Kota Bengkulu hingga akhir April 2026 tercatat tetap stabil di kisaran 2 persen, bahkan berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi masyarakat karena menunjukkan daya beli masih terjaga dan harga kebutuhan pokok relatif terkendali.
Asisten II Pemerintah Kota Bengkulu, Sehmi, mengatakan pengendalian inflasi tidak terlepas dari kerja sama lintas daerah dalam menjaga pasokan dan kelancaran distribusi bahan pokok.
“Secara umum, inflasi di Kota Bengkulu masih terkendali yang berada di angka 2 persen, angka ini berada di bawah angka nasional. Ini menjadi indikator bahwa langkah pengendalian yang kita lakukan cukup efektif,” kata Sehmi, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, daerah penyangga seperti Rejang Lebong dan Seluma memiliki peran penting sebagai sentra pemasok utama, khususnya untuk komoditas sayur-sayuran yang sangat memengaruhi harga pasar.
“Wilayah seperti Rejang Lebong dan Seluma menjadi sentra pemasok utama. Kita terus memperkuat koordinasi agar distribusi dari daerah tersebut tetap lancar dan tidak terganggu,” jelasnya.
Sejumlah harga komoditas juga mulai menunjukkan penurunan. Harga cabai yang sebelumnya menembus Rp40 ribu per kilogram kini turun ke kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram. Sementara harga daging ayam yang sempat naik saat Lebaran juga kembali normal di kisaran Rp35 ribu per kilogram.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga telur menjelang Idul Adha, serta sektor transportasi yang dapat memicu inflasi apabila terjadi kenaikan tarif atau gangguan distribusi.
Untuk menjaga stabilitas tersebut, Pemkot Bengkulu terus mengintensifkan operasi pasar, memastikan stok bahan pokok aman, dan memperkuat koordinasi dengan daerah pemasok maupun pelaku usaha.
“Kami terus mengintensifkan operasi pasar dan memastikan stok tetap tersedia. Koordinasi lintas daerah juga diperkuat agar tidak terjadi gejolak harga yang signifikan,” tutup Sehmi.









