Jual Pupuk Subsidi ke Petani Tak Terdaftar, Dua Tersangka Raup Untung Besar

- Jurnalis

Senin, 2 Maret 2026 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meta Deskripsi: Dua tersangka di Bengkulu diduga menjual pupuk subsidi kepada petani yang tidak terdaftar e-RDKK dengan harga di atas HET. Total transaksi mencapai 90 ton.

Meta Deskripsi: Dua tersangka di Bengkulu diduga menjual pupuk subsidi kepada petani yang tidak terdaftar e-RDKK dengan harga di atas HET. Total transaksi mencapai 90 ton.

RAKYATMERAHPUTIH – Distribusi pupuk bersubsidi yang seharusnya menjadi penopang ketahanan pangan justru disalahgunakan demi keuntungan pribadi. Dua orang di Bengkulu kini harus berhadapan dengan hukum setelah diduga menjual pupuk subsidi kepada petani yang tidak terdaftar dalam sistem resmi.

Tersangka ED dan MP diduga memperjualbelikan pupuk jenis NPK Phonska dan Urea dengan harga di atas ketentuan pemerintah. Polisi menyita 10 ton pupuk sebagai barang bukti terakhir dari rangkaian transaksi yang terjadi sejak Oktober 2025.

Menurut AKBP Herman Sopian, pupuk subsidi hanya boleh dibeli oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani dan terdaftar dalam e-RDKK. Namun, dalam kasus ini pupuk dijual kepada petani di Kecamatan Penarik yang tidak masuk daftar penerima.

Baca Juga :  UMP Bengkulu 2026 Berlaku Mulai Januari, DPRD Ingatkan Pengusaha: Upah Buruh Bukan Sekadar Angka

“Penjualan dilakukan di luar mekanisme resmi. Itu yang kami tindak,” tegasnya.

Harga jualnya pun jauh melampaui HET. Selisih harga mencapai puluhan ribu rupiah per karung. Dari situlah tersangka memperoleh keuntungan besar.

Penyidikan mengungkap total pupuk yang telah diperjualbelikan mencapai sekitar 90 ton dalam enam kali transaksi. Jumlah tersebut tentu bukan angka kecil.

Praktik ini berpotensi merugikan petani yang benar-benar berhak menerima pupuk subsidi. Ketika distribusi tidak tepat sasaran, maka akan muncul kelangkaan dan harga menjadi tidak terkendali.

Baca Juga :  MoU dengan BPKP, Pemprov Bengkulu Perketat Pengawasan Anggaran

Polisi menilai tindakan tersebut melanggar ketentuan Undang-Undang Perdagangan. Ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara atau denda Rp5 miliar.

“Distribusi pupuk bersubsidi harus tepat sasaran dan sesuai wilayah alokasi,” kata Herman.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap barang subsidi harus terus diperketat. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk subsidi pupuk, sehingga penyimpangan tidak bisa ditoleransi. Polda Bengkulu memastikan proses hukum akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Bekal dari Pelabuhan untuk Kampus, GM Pelindo Bengkulu Ajak Mahasiswa UNIB Bermimpi Besar
Dorong Tata Kelola Transparan, Kejati Bengkulu dan Pelindo Lanjutkan Kerja Sama Hukum
Pemprov Bengkulu Matangkan Verval KDMP, Siapkan Penandatanganan Serentak
Kekerasan Anak Tak Hanya Luka Fisik, Kejati Bengkulu Ajak Masyarakat Lebih Peka
Truk Batu Bara Tak Lewat Padang Serai, Pemprov Bengkulu Siapkan Kajian Jalur Khusus
Stok Pemerintah Makin Kuat, BULOG Genjot Penyerapan Hasil Panen Petani
PHRI Bengkulu Warning Satpol PP soal Sidak Hotel: Jangan Tanya Izin di Lapangan
Proses SK Perpanjangan Selesai Bulan Ini, BKD Fokus Optimalisasi PPPK Paruh Waktu
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Bekal dari Pelabuhan untuk Kampus, GM Pelindo Bengkulu Ajak Mahasiswa UNIB Bermimpi Besar

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Dorong Tata Kelola Transparan, Kejati Bengkulu dan Pelindo Lanjutkan Kerja Sama Hukum

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Pemprov Bengkulu Matangkan Verval KDMP, Siapkan Penandatanganan Serentak

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Kekerasan Anak Tak Hanya Luka Fisik, Kejati Bengkulu Ajak Masyarakat Lebih Peka

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Stok Pemerintah Makin Kuat, BULOG Genjot Penyerapan Hasil Panen Petani

Berita Terbaru