RAKYATMERAHPUTIH – Pemerintah Provinsi Bengkulu sedang menyiapkan langkah baru yang cukup progresif dalam penanganan sampah organic untuk wilayah Provoinsi Bengkulu. Salah satu gagasan yang tengah didorong adalah pemanfaatan sampah organik sebagai pakan maggot, yang akan menjadi bagian dari program pengelolaan sampah tahun 2026. Dana sekitar Rp 1,5 miliar telah disiapkan untuk mendukung program ini.
Informasi tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, saat menutup Reses Masa Sidang III Tahun 2025 pada Jumat sore (5/12/2025). Gagasan ini muncul sebagai tindak lanjut dari berbagai aspirasi masyarakat yang disampaikan selama kegiatan reses, terutama soal penanganan sampah Kota Bengkulu yang dinilai semakin mendesak untuk dibenahi.
“Sampah organik akan kita arahkan menjadi makanan maggot. Anggarannya sudah disiapkan sebesar Rp 1,5 miliar,” ujar Teuku.
Teuku menjelaskan bahwa maggot selama ini dikenal sebagai sumber pakan alternatif yang kaya protein dan lebih murah dibandingkan pakan konvensional. Maggot banyak dibutuhkan untuk budidaya lele, ayam, dan bebek. Karena itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu menilai program ini bukan hanya mengatasi sampah, tetapi juga memperkuat sektor perikanan dan peternakan.
Program pemanfaatan maggot ini nantinya akan dialokasikan di Dinas Perikanan Provinsi Bengkulu pada tahun anggaran 2026. Dengan begitu, pengembangan budidaya maggot diharapkan terintegrasi dengan kebutuhan pakan sektor perikanan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pakan impor atau pakan pabrikan yang harganya terus meningkat.
Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah provinsi juga akan membangun infrastruktur pendukung berupa Rumah Maggot. Fasilitas ini akan menjadi pusat pengolahan sampah organik sekaligus area budidaya maggot dalam skala besar.
“Target kita enam ton maggot per hari. Kalau ingin menghasilkan sebanyak itu, maka diperlukan sekitar 30 ton sampah organik per hari,” jelas Teuku.
Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa program ini bukan hanya eksperimen kecil, tetapi sebuah sistem pengolahan sampah yang terencana, terukur, dan memiliki potensi menjadi solusi permanen bagi Kota Bengkulu. Model pengelolaan seperti ini telah berhasil diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia, di mana pengolahan sampah organik dengan metode black soldier fly (BSF) mampu menekan volume sampah secara signifikan.
Salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan masyarakat adalah penumpukan sampah di TPA Air Sebakul, yang kini semakin mendekati batas kapasitas. Dengan hadirnya program pengolahan sampah organik menjadi maggot, beban TPA diperkirakan akan berkurang cukup besar.
Teuku menegaskan, seluruh proses pengolahan tidak akan dilakukan di TPA Air Sebakul. Sampah organik akan ditempatkan dan dikelola di lahan milik Pemerintah Provinsi Bengkulu yang berada di Kabupaten Bengkulu Tengah, dengan luas sekitar 6 hektare. Lahan ini dinilai ideal untuk pengembangan fasilitas pengolahan karena jauh dari pemukiman padat dan memiliki akses logistik yang memadai.
Selain mengurangi sampah, program ini dinilai membuka peluang ekonomi baru. Maggot memiliki nilai jual tinggi dan banyak dibutuhkan oleh pelaku usaha perikanan dan peternakan. Produksi maggot dalam jumlah besar memungkinkan pemerintah untuk. Menyediakan pakan murah bagi pembudidaya ikan, mengembangkan usaha samping berbasis protein serangga, membuka lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan budidaya BSF, menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Model ini menempatkan sampah bukan semata masalah, tetapi sumber daya bernilai ekonomi yang dapat diolah kembali. Melalui program maggot ini, masyarakat berharap permasalahan sampah yang selama bertahun-tahun menghantui Kota Bengkulu dapat terpecahkan. Dengan target pengolahan hingga 30 ton sampah organik setiap hari, pemerintah optimistis dapat menjadikan Bengkulu sebagai salah satu daerah dengan sistem pengelolaan sampah terpadu yang modern dan berbasis pemanfaatan.
“Ini bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi langkah besar untuk menjadikan sampah sebagai sumber manfaat,” ujar Teuku menutup penjelasannya dalam forum reses.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









