RAKYATMERAHPUTIH – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu mulai menggencarkan gerakan memilah sampah dari sumbernya dengan melibatkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan kantor.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu, Anshar Amin, mengatakan gerakan tersebut diawali dari internal DLH sebagai bentuk contoh bagi organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya hingga masyarakat luas.
“Hari ini kita memulai gerakan memilah sampah, dimulai dari kantor kita. Karena persoalan sampah ini persoalan bersama, maka semua orang juga terlibat berkait dengan sampah. Maka hari ini Dinas Lingkungan Hidup memulai gerakan yaitu memilah sampah,” kata Anshar, Selasa (19/05/2026).
Dalam program tersebut, ASN diminta mulai memilah sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, dengan menggunakan metode komposter sederhana seperti ember komposter.
Menurut Anshar, setiap ASN nantinya wajib membawa sampah organik yang sudah dipilah dari rumah ke kantor setiap satu minggu sekali untuk diolah lebih lanjut.
“Memilah sampahnya adalah kita menggunakan metode pembuatan komposter. Komposter itu seperti yang kita lihat ada ember, kemudian nanti mekanismenya setiap ASN yang ada di rumah ini wajib memilah sampah dari rumah,” jelasnya.
“Jadi setiap satu minggu sekali mereka akan membawa sampah, memilah sampah organiknya, dibawa ke kantor,” sambungnya.
Anshar berharap gerakan tersebut tidak hanya berhenti di lingkungan DLH, tetapi dapat diikuti seluruh OPD di Kota Bengkulu hingga diterapkan di tengah masyarakat.
“Ini InsyaAllah kita memulai dari OPD kita, dan selanjutnya akan diikuti seluruh OPD yang ada di kota, sampai ke level masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai pemilahan sampah dari rumah akan sangat membantu mengurangi volume sampah yang selama ini dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Bayangkan kalau selama ini diangkut oleh petugas sampah, karena prosesnya tidak terpilah, maka ketika dia terpilah jumlah sampah yang dibawa ke TPA akan sedikit sekali,” tambahnya.
Selain mengurangi volume sampah, pengelolaan sampah organik juga dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos untuk tanaman, sedangkan sampah anorganik bisa dijual ke bank sampah.
“Dan itu akan dikelola di rumah, sehingga ketika dikelola di rumah ini akan menghasilkan banyak manfaat. Komposnya bisa dibuat untuk tanaman, kemudian kalau dia dipilah unorganiknya bisa menjadi cuan, bisa disetor ke bank sampah. Sehingga sampah ini menjadi bermanfaat,” ujarnya.
Anshar menegaskan, inti dari gerakan tersebut adalah mengajak seluruh masyarakat terlibat aktif dalam pengelolaan sampah melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.
“Intinya kita mengajak semua orang untuk terlibat di dalam mengelola sampah. Mengelola sampah ini yaitu pertama tentu memilah, lalu kemudian mengolah. Sehingga diharapkan dengan memilah dari rumah tangga, maka sampah itu akan terkurangi volumenya,” tutup Anshar.









