Dari Elephant Camp, Anak Muda Bengkulu Diajak Menjaga Gajah Sumatera
Tiga hari berada di Bentang Seblat memberi pengalaman berbeda bagi peserta Elephant Camp 2026. Mereka masuk hutan, mengenal keanekaragaman hayati hingga berinteraksi langsung dengan gajah Sumatera.
BENGKULU — Delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat ikut menjadi bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini.
Bersama peserta Elephant Camp 2026, gajah-gajah tersebut mengikuti rangkaian kegiatan yang digelar di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat pada 15-17 Agustus 2026.
Elephant Camp digelar Koalisi Bentang Seblat bersama elemen pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia sekaligus HUT ke-81 Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut mengusung tema #GajahKita.
Tema itu membawa pesan bahwa keberadaan gajah Sumatera di Bentang Seblat bukan hanya menjadi urusan pemerintah atau kelompok konservasi. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga keberlangsungan hidup satwa tersebut.
Salah satu rangkaian kegiatan dilakukan setelah upacara bendera. Peserta bersama delapan gajah binaan PKG Seblat membentuk formasi sebagai simbol kebersamaan manusia dan gajah.
Pesan yang ingin disampaikan melalui formasi tersebut adalah bahwa gajah merupakan bagian dari kekayaan alam yang harus dijaga bersama.
Belajar Langsung dari Hutan
Elephant Camp tidak hanya berisi kampanye perlindungan gajah.
Peserta juga diajak masuk dan mengenal Bentang Seblat secara langsung. Mereka mengikuti kegiatan susur hutan dengan pendampingan petugas BKSDA.
Di dalam kawasan tersebut, peserta melihat berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang sebelumnya mungkin hanya mereka kenal melalui buku atau media.
Salah seorang peserta, Bela Wilianti, mengatakan Bentang Seblat memiliki keanekaragaman hayati yang harus dilindungi.
“Banyak keanekaragaman yang kami temui. Ada serangga, dan tumbuhan yang belum pernah kami temui, termasuk pohon meranti yang terancam punah,” kata Bela.
Pengalaman berada langsung di dalam kawasan hutan menjadi bagian penting dari pendidikan konservasi.
Peserta tidak sekadar menerima informasi mengenai ancaman terhadap gajah, tetapi melihat sendiri kawasan yang menjadi tempat hidup satwa tersebut.
Koordinator PLG Seblat Bengkulu, Johansyah, mengatakan Elephant Camp menjadi salah satu bentuk dukungan publik terhadap keberadaan dan keberlanjutan konservasi gajah di Seblat.
“Para peserta bisa berinteraksi secara langsung dan menjadi sarana edukasi tentang gajah Sumatera di Bengkulu,” ujar Johansyah.
Pertama Kali Melihat Gajah
Pengalaman berbeda dirasakan Pinka. Ia datang ke PKG Seblat bersama empat temannya.
Kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertamanya melihat gajah secara langsung.
Bagi Pinka, kesempatan berinteraksi dengan gajah memberikan kesan yang sulit dilupakan.
“Ini menjadi pengalaman berharga. Kegiatan ini semakin menyadarkan kita bahwa keberadaan gajah sangat penting dan mereka berhak mendapatkan ruang hidup yang aman,” katanya.
Kesadaran mengenai pentingnya ruang hidup menjadi salah satu pesan utama Elephant Camp.
Sebab, gajah bukan hanya satwa yang harus diselamatkan karena populasinya semakin sedikit. Keberadaannya mempunyai fungsi penting bagi keseimbangan hutan.
Gajah berperan sebagai penyebar benih. Ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, gajah membawa dan menyebarkan biji berbagai tumbuhan melalui aktivitas makan dan kotorannya.
Pergerakan kawanan gajah juga membantu membuka jalur alami di dalam hutan. Proses tersebut turut mendukung regenerasi hutan dan keberagaman tumbuhan.
Ancaman Tetap Membayangi
Di balik pengalaman peserta Elephant Camp, kondisi gajah Sumatera di Bengkulu tetap mengkhawatirkan.
Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho, mengatakan populasi gajah di Bengkulu saat ini diperkirakan tinggal sekitar 25 hingga 30 ekor, sedangkan 10 lainnya merupakan gajah jinak di TWA Seblat.
Gajah liar yang terpantau masih memiliki empat anak. Hal itu menunjukkan populasi tersebut masih bereproduksi.
Namun, Agung mengingatkan berkurangnya tutupan hutan dan perubahan kawasan menjadi perkebunan sawit dapat mengancam keberlangsungan populasi.
“Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah,” kata Agung.
Karena itu, edukasi kepada generasi muda menjadi bagian penting dari upaya konservasi.
Elephant Camp mencoba mendekatkan masyarakat dengan gajah, bukan sekadar melalui cerita mengenai konflik atau ancaman kepunahan, tetapi melalui pengalaman langsung melihat satwa dan habitatnya.
Dari hutan Seblat, pesan #GajahKita kemudian dibawa pulang para peserta.
Pesannya sederhana: gajah membutuhkan hutan untuk hidup, sementara hutan membutuhkan keseimbangan ekosistem yang salah satunya dijaga oleh gajah.
Menjaga gajah Sumatera pada akhirnya berarti menjaga Bentang Seblat untuk generasi berikutnya.
Frase Kunci Utama: Elephant Camp 2026 Bengkulu
Taq: Elephant Camp 2026, Gajah Sumatera, Bentang Seblat, PKG Seblat, TWA Seblat, BKSDA Bengkulu, Hari Gajah Sedunia, Konservasi Gajah, #GajahKita, Lingkungan Bengkulu
Meta Deskripsi: Elephant Camp 2026 mengajak pelajar, mahasiswa dan masyarakat Bengkulu mengenal gajah Sumatera serta pentingnya menjaga habitat Bentang Seblat.
RAKYATMERAHPUTIH – Masa depan Bentang Alam Seblat menjadi perhatian serius kelompok lingkungan. Kawasan yang menjadi salah satu habitat terakhir gajah Sumatera di Bengkulu itu menghadapi tekanan akibat berkurangnya tutupan hutan, perkebunan sawit hingga pembalakan.
Koalisi Selamatkan Bentang Seblat mendesak Kementerian Kehutanan meningkatkan status perlindungan kawasan tersebut. Bentang Seblat yang saat ini sebagian berstatus hutan produksi diusulkan menjadi kawasan suaka margasatwa seluas sekitar 80 ribu hektare.
Desakan itu muncul di tengah kekhawatiran terhadap semakin sempitnya ruang hidup gajah Sumatera.
Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan habitat gajah di Bentang Alam Seblat saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Fragmentasi kawasan membuat ruang jelajah gajah semakin terbatas.
Berdasarkan analisis Koalisi Bentang Seblat, dari sekitar 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat, sekitar 30.017 hektare disebut telah dirambah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Perubahan kawasan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan satwa liar, terutama gajah Sumatera yang membutuhkan wilayah jelajah luas.
Selain perkebunan sawit, koalisi menyebut pembalakan masih berlangsung di wilayah Bentang Seblat lainnya.
Tekanan terhadap kawasan itu beriringan dengan semakin kecilnya populasi gajah.
“Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,” kata Ali.
Koalisi menilai status kawasan Bentang Seblat saat ini belum cukup kuat untuk menjamin perlindungan habitat gajah dalam jangka panjang.
Karena itu, peningkatan status menjadi suaka margasatwa dinilai penting agar perlindungan terhadap kawasan memiliki landasan yang lebih kuat.
“Kita ingin status ini satu tingkat di atas level kawasan lindung, dalam hal ini kawasan konservasi. Usulan peningkatan status pengelolaan kawasan yang merupakan kantong gajah ini,” ujar Ali.
Koalisi juga menyoroti skema perizinan konsesi kayu yang diberikan kepada PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API). Dalam siaran persnya, koalisi menilai skema tersebut gagal melindungi ekosistem Bentang Seblat.
Tekanan terhadap habitat juga dikaitkan dengan keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar. Koalisi menyebut fragmentasi kawasan terjadi akibat aktivitas perkebunan Anglo Eastern Plantation (AEP) yang beroperasi melalui PT Mitra Puding Mas dan PT Alno Agro Utama.
Di tengah tekanan tersebut, kematian gajah menjadi peringatan serius. Pada 30 April 2026, seekor induk gajah berusia sekitar 25 tahun dan anaknya berumur sekitar dua tahun ditemukan mati di kawasan hutan.
Berdasarkan keterangan Koalisi Bentang Seblat, hasil pemeriksaan laboratorium yang diterima BKSDA Bengkulu menunjukkan adanya kandungan fluorida, sulfat, dan amonia dalam tubuh kedua gajah tersebut.
Ali mengatakan temuan itu harus menjadi perhatian semua pihak untuk memperkuat perlindungan terhadap gajah dan habitatnya.
Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho, memberikan gambaran lebih spesifik mengenai kondisi populasi gajah.
Menurut dia, gajah di Bengkulu saat ini diperkirakan hanya tersisa 25 hingga 30 ekor. Selain itu, terdapat 10 gajah jinak di TWA Seblat.
“Gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi,” kata Agung.
Meski masih berkembang biak, ancaman terhadap populasi belum hilang.
Berkurangnya tutupan hutan dan perubahan kawasan menjadi perkebunan sawit menjadi persoalan yang harus segera ditangani.
“Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah,” ujar Agung.
Peningkatan status kawasan menjadi suaka margasatwa kini menjadi salah satu pilihan yang didorong kelompok lingkungan.
Namun, perlindungan Bentang Seblat tidak berhenti pada perubahan status kawasan. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, perusahaan, dan kelompok lingkungan juga diperlukan untuk memastikan hutan tetap menjadi ruang hidup yang aman bagi gajah Sumatera.
Tanpa perlindungan yang lebih kuat, penyusutan habitat akan terus mempersempit ruang hidup gajah. Dan ketika hutan terakhir mereka menghilang, Bengkulu menghadapi risiko kehilangan salah satu satwa penting yang selama ini menjadi bagian dari Bentang Seblat.