RAKYATMERAHPUTIH – Kenaikan harga kedelai tidak hanya berdampak pada aktivitas produksi tempe. Di balik usaha yang terus berjalan, banyak pelaku usaha kecil mulai merasakan tekanan terhadap ekonomi keluarga mereka.
Hal itulah yang dirasakan Yuneni Wulandari, salah satu pengusaha tempe di Kota Bengkulu. Naiknya harga kedelai hingga Rp850 ribu per karung membuat biaya produksi meningkat secara signifikan.
Akibatnya, keuntungan yang biasanya diperoleh dari usaha tempe mengalami penurunan tajam. Jika sebelumnya usaha tersebut mampu memberikan pendapatan yang cukup stabil, kini laba bersih yang diperoleh hanya sekitar 30 persen dari kondisi normal.
Penurunan keuntungan tersebut memaksa Yuneni melakukan berbagai penghematan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengurangi pengeluaran rumah tangga agar modal usaha tetap tersedia.
“Kami belum sampai berutang. Tetapi belanja rumah tangga harus ditekan. Kalau biasanya membeli kebutuhan dalam jumlah tertentu, sekarang harus dikurangi agar usaha tetap berjalan,” ungkapnya
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana gejolak harga bahan baku dapat memberikan dampak berantai. Kenaikan harga tidak hanya dirasakan di tempat produksi, tetapi juga masuk ke dalam kehidupan keluarga pelaku usaha.
Bagi banyak pengusaha kecil, modal usaha dan kebutuhan rumah tangga sering kali berasal dari sumber yang sama. Ketika keuntungan usaha berkurang, otomatis pengeluaran keluarga juga harus disesuaikan.
Situasi tersebut semakin terasa karena produksi tempe juga mengalami penurunan. Dari sebelumnya mampu mengolah 12 karung kedelai per hari, kini produksi hanya enam hingga delapan karung.
Artinya, jumlah produk yang dijual berkurang, sementara biaya bahan baku justru meningkat. Kondisi inilah yang membuat para pelaku usaha harus bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan usaha mereka.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Yuneni tetap berupaya mempertahankan usahanya. Ia percaya tempe akan selalu dibutuhkan masyarakat karena merupakan salah satu makanan yang terjangkau dan menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari.
Namun ia berharap harga kedelai dapat kembali stabil sehingga usaha kecil seperti miliknya tidak terus tertekan. Stabilitas harga dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus melindungi ekonomi keluarga pelaku UMKM.
Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan, kisah para perajin tempe Bengkulu menjadi pengingat bahwa setiap kenaikan harga bahan pokok memiliki dampak yang jauh lebih luas dari yang terlihat di pasar.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









