Pejuang Kehidupan di Mandalika

- Jurnalis

Sabtu, 8 November 2025 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zacky Antony, wartawan senior di Bengkulu (foto: dok pribadi)

Zacky Antony, wartawan senior di Bengkulu (foto: dok pribadi)

Catatan Zacky Antony

ELI RAHMAWATI (13) dan Endin (13), tancap gas menaiki bukit yang cukup terjal tanpa rasa takut sedikitpun. Eli yang berperawakan lebih besar mengendarai motor, sedangkan Endin dibonceng.

Saya amati, keduanya terlihat sudah biasa menaiki motor ke atas bukit. Bak seorang pebalap motor cross, Eli meliukkkan stang motor menghindari lubang di atas tebing. Mengerem. Lalu menarik gas lagi. Dan akhirnya sampai ke puncak.

Saya kaget juga melihat ketangkasannya mengendarai motor. Pertama, karena dia seorang perempuan. Kedua, masih tergolong anak-anak. Tapi itulah potret anak-anak Mandalika. Anak-anak ini adalah pejuang kehidupan di Mandalika. Acap kali pembangunan berskala Internasional memarginalkan penduduk lokal.

Tidak mau kalah, saya pun tancap gas. Semula saya agak ragu. Maklum, saya jarang pakai motor bebek untuk naik bukit dengan kondisi jalan tanah bercampur batu-batu kerikil. “Nggak apa-apa pak. Tanahnya kering kok,” kata Endin seperti mengetahui keraguan saya.

Bukit yang kami naiki itu bernama Bukit Seger. Itu satu-satunya bukit di luar kawasan trek yang menawarkan view sirkuit Mandalika dari ketinggian. Bukan kami bertiga saja yang naik ke bukit pada senja di hari Jumat (7/11) itu. Saya lihat banyak juga pengunjung lain naik bukit pakai motor. Bahkan, ada beberapa pengunjung satu keluarga naik bukit pakai mobil.

Setelah berada di puncak, rasa letih dan cemas langsung terbayar lunas. Di ketinggian bukit, kami bisa melihat pemandangan Sirkuit Mandalika yang menjadi kebanggaan Indonesia. Sirkuit dengan panjang 4,3 KM ini begitu indah. Lokasinya dekat dengan pantai. Berbeda dengan pantai Bengkulu yang landai. Pantai di Mandalika banyak sekali bukit.

Sembilan tahun yang lalu, saat Mandalika belum memiliki sirkuit Internasional, saya hadir ketika Presiden Jokowi meresmikan Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Dari situlah, perubahan besar-besaran itu dimulai.

Baca Juga :  Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional

Endin dan Eli adalah sosok anak-anak pejuang di Mandalika. Keduanya masih SMP Kelas VIII. Untuk menambah uang jajan sekolah, sepulang sekolah mereka berjualan batu mutiara kecil yang dibuat menjadi gelang. Satu gelang dijual seharga Rp 20 ribu.

Hari itu, Jumat (7/9) saya sengaja ingin melihat sisi lain Mandalika. Cerita mengenai keindahan dan kemegahan sirkuit sudah banyak banyak diekspos. Tapi saya ingin melihat Mandalika dari angle yang berbeda.

Saya menyewa satu motor agar leluasa berkeliling di seputar Mandalika. Berkeliling Mandalika lebih enak menggunakan motor. Sensasinya lebih terasa ketimbang naik mobil. Bule-bule juga hilir mudik pakai motor . Menurut Eli, bule-bule juga merental motor.

Karena belum hapal jalan-jalan di seputar Mandalika, saya menerima tawaran Eli dan Endin untuk menjadi navigator. Nggak bayar. Imbalannya cukup membeli barang jualan milik mereka berdua.

Mandalika masih sangat alami. Anda bisa bebas berkeliling pakai motor tanpa harus memakai helm. Tak satupun pemotor pakai helm. Turis-turis asing bahkan ada yang bermotor tanpa memakai baju alias bertelanjang dada. Turis laki-laki maksudnya, bukan turis perempuan he he.

Sejak Sirkuit Mandalika masuk dalam kalender MotoGP tahun 2022, kehidupan di Mandalika berubah drastis. Pusat-pusat ekonomi terus tumbuh seiring meningkatnya pembangunan infrastuktur. Semua jalan mulus.

Investasi juga terus mengalir. Hotel-hotel berbintang banyak berdiri. Di dekat sirkuit kini sudah ada Hotel Novotel dan Pullman. Dan segera masuk juga hotel-hotel kelas Internasional.

Pengunjung juga punya pilihan lain seperti home stay-home stay. Rumah-rumah warga juga siap melayani tamu. Masyarakat lokal dan alam menyatu dalam konsep pembangunan wisata di Mandalika.

Baca Juga :  Bank Raya Perkuat Transformasi Digital Lewat Fitur Uang Saku untuk Kendali Transaksi Anak

Sebagai gambaran, saat perhelatan MotoGP Mandalika 3-5 Oktober 2025, mampu menyedot 140.324 penonton. Jumlah ini adalah rekor. Naik 15,73 persen dibanding perhelatan tahun 2024 yang berjumlah 121.252 penonton. Kalau satu orang menghabiskan uang Rp 10 juta saja, maka uang beredar pada saat perhelatan MotoGP tersebut mencapai Rp 1,4 triliun. Setara dengan APBD Kota Bengkulu untuk satu tahun anggaran.

Tak hanya anak-anak yang berjuang di Mandalika, banyak sekali ibu-ibu yang langsung berdatangan manakala melihat ada pengunjung baru datang. Lemon (45), mendatangi saya menawarkan kain khas Lombok, souvenir-souvenir motoGP.

Lemon menghidupi 2 orang anaknya yang masih sekolah. Dia mengaku mengandalkan berjualan di kawasan Mandalika. “Saya nggak punya lahan sawah atau kebun. Jadi ya, berjualan saja,” kata Lemon yang motornya akhirnya saya sewa.

*Bali Kedua*
Pantai Kuta Mandalika kini menjadi Bali kedua. Pasca kehadiran sirkuit MotoGP di lokasi ini, Mandalika menjadi opsi baru tujuan wisata setelah Gili Terawangan yang sudah lebih dulu terkenal.

Menyusuri jalan-jalan di Pantai Kuta Mandalika tak ubahnya menikmati jalan di Bali pada malam hari. Pemandangan didominasi bule-bule hilir mudik. Tempat-tempat hiburan bak jamur di musim hujan. Dentuman house music atau grup band menyiratkan sepintas itu adalah Bali.

Namun sebagian kafe-kafe tersebut tutup pukul 23.00 WITA. Namun ada beberapa kafe yang tutup hingga pukul 03.00 dinihari. Kafe-kafe tersebut didominasi bule-bule berbaur dengan wisatawan domestik.

Di Mandalika, agama dan pariwisata bisa bertemu. Di sini mayoritas muslim. Beda dengan Bali yang mayoritas Hindu. Menurut sopir yang membawa kami, tidak ada demo atau protes atas menjamurnya tempat-tempat hiburan yang didominasi bule.

Penulis adalah wartawan senior di Bengkulu

Berita Terkait

Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional
PANGGUNG YANG KINI BERNAMA PRABOWO
Refleksi Akhir Tahun 2025: #EreksiKebangsaan DI TENGAH BADAI STRUKTURAL
Bank Raya Perkuat Transformasi Digital Lewat Fitur Uang Saku untuk Kendali Transaksi Anak
Solusi Tata Ruang Kota untuk Mengatasi Kemacetan di Kota Metropolitan
Air Mata Dibalik Penjara Dua Guru
Leman Jais Antara Taman Bacaan dan Guru Ngaji yang Tidak Pernah Lelah Mengajar
Gubernur Helmi Hasan Seperti Ultraman Bertopi Kopyah
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional

Rabu, 31 Desember 2025 - 16:13 WIB

PANGGUNG YANG KINI BERNAMA PRABOWO

Senin, 29 Desember 2025 - 13:10 WIB

Refleksi Akhir Tahun 2025: #EreksiKebangsaan DI TENGAH BADAI STRUKTURAL

Senin, 22 Desember 2025 - 18:34 WIB

Bank Raya Perkuat Transformasi Digital Lewat Fitur Uang Saku untuk Kendali Transaksi Anak

Senin, 8 Desember 2025 - 10:42 WIB

Solusi Tata Ruang Kota untuk Mengatasi Kemacetan di Kota Metropolitan

Berita Terbaru

Walikota  Bengkulu Dedy Wahyudi, menyatakan Mars Kota Bengkulu ditetapkan sebagai lagu wajib dalam acara resmi. Pemkot Bengkulu menilai lagu ini sebagai strategi membangun identitas dan kebersamaan warga

Bengkulu

Mars Kota Bengkulu dan Strategi Membangun Identitas Daerah

Selasa, 13 Jan 2026 - 20:14 WIB