Program Maggot Jadi Solusi Baru Sampah di Bengkulu: Pemerintah Targetkan Olah 30 Ton Sampah Organik Per Hari pada 2026

- Jurnalis

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, saat menutup Reses Masa Sidang III Tahun 2025 pada Jumat sore (5/12/2025).

Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, saat menutup Reses Masa Sidang III Tahun 2025 pada Jumat sore (5/12/2025).

RAKYATMERAHPUTIH – Pemerintah Provinsi Bengkulu sedang menyiapkan langkah baru yang cukup progresif dalam penanganan sampah organic untuk wilayah Provoinsi Bengkulu. Salah satu gagasan yang tengah didorong adalah pemanfaatan sampah organik sebagai pakan maggot, yang akan menjadi bagian dari program pengelolaan sampah tahun 2026. Dana sekitar Rp 1,5 miliar telah disiapkan untuk mendukung program ini.

Informasi tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, saat menutup Reses Masa Sidang III Tahun 2025 pada Jumat sore (5/12/2025). Gagasan ini muncul sebagai tindak lanjut dari berbagai aspirasi masyarakat yang disampaikan selama kegiatan reses, terutama soal penanganan sampah Kota Bengkulu yang dinilai semakin mendesak untuk dibenahi.

“Sampah organik akan kita arahkan menjadi makanan maggot. Anggarannya sudah disiapkan sebesar Rp 1,5 miliar,” ujar Teuku.

Teuku menjelaskan bahwa maggot selama ini dikenal sebagai sumber pakan alternatif yang kaya protein dan lebih murah dibandingkan pakan konvensional. Maggot banyak dibutuhkan untuk budidaya lele, ayam, dan bebek. Karena itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu menilai program ini bukan hanya mengatasi sampah, tetapi juga memperkuat sektor perikanan dan peternakan.

Program pemanfaatan maggot ini nantinya akan dialokasikan di Dinas Perikanan Provinsi Bengkulu pada tahun anggaran 2026. Dengan begitu, pengembangan budidaya maggot diharapkan terintegrasi dengan kebutuhan pakan sektor perikanan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pakan impor atau pakan pabrikan yang harganya terus meningkat.

Baca Juga :  MoU Bank Tanah Jadi Titik Balik, Bengkulu Bangun Ekonomi dari Aset Sendiri

Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah provinsi juga akan membangun infrastruktur pendukung berupa Rumah Maggot. Fasilitas ini akan menjadi pusat pengolahan sampah organik sekaligus area budidaya maggot dalam skala besar.

“Target kita enam ton maggot per hari. Kalau ingin menghasilkan sebanyak itu, maka diperlukan sekitar 30 ton sampah organik per hari,” jelas Teuku.

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa program ini bukan hanya eksperimen kecil, tetapi sebuah sistem pengolahan sampah yang terencana, terukur, dan memiliki potensi menjadi solusi permanen bagi Kota Bengkulu. Model pengelolaan seperti ini telah berhasil diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia, di mana pengolahan sampah organik dengan metode black soldier fly (BSF) mampu menekan volume sampah secara signifikan.

Salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan masyarakat adalah penumpukan sampah di TPA Air Sebakul, yang kini semakin mendekati batas kapasitas. Dengan hadirnya program pengolahan sampah organik menjadi maggot, beban TPA diperkirakan akan berkurang cukup besar.

Teuku menegaskan, seluruh proses pengolahan tidak akan dilakukan di TPA Air Sebakul. Sampah organik akan ditempatkan dan dikelola di lahan milik Pemerintah Provinsi Bengkulu yang berada di Kabupaten Bengkulu Tengah, dengan luas sekitar 6 hektare. Lahan ini dinilai ideal untuk pengembangan fasilitas pengolahan karena jauh dari pemukiman padat dan memiliki akses logistik yang memadai.

Baca Juga :  Bengkulu Siapkan Digitalisasi Pajak untuk Tekan Kebocoran dan Tingkatkan Pendapatan

Selain mengurangi sampah, program ini dinilai membuka peluang ekonomi baru. Maggot memiliki nilai jual tinggi dan banyak dibutuhkan oleh pelaku usaha perikanan dan peternakan. Produksi maggot dalam jumlah besar memungkinkan pemerintah untuk. Menyediakan pakan murah bagi pembudidaya ikan, mengembangkan usaha samping berbasis protein serangga, membuka lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan budidaya BSF, menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Model ini menempatkan sampah bukan semata masalah, tetapi sumber daya bernilai ekonomi yang dapat diolah kembali. Melalui program maggot ini, masyarakat berharap permasalahan sampah yang selama bertahun-tahun menghantui Kota Bengkulu dapat terpecahkan. Dengan target pengolahan hingga 30 ton sampah organik setiap hari, pemerintah optimistis dapat menjadikan Bengkulu sebagai salah satu daerah dengan sistem pengelolaan sampah terpadu yang modern dan berbasis pemanfaatan.

“Ini bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi langkah besar untuk menjadikan sampah sebagai sumber manfaat,” ujar Teuku menutup penjelasannya dalam forum reses.

 

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

MoU Bank Tanah Jadi Titik Balik, Bengkulu Bangun Ekonomi dari Aset Sendiri
Pemkot Tertibkan Pasar Panorama Untuk Keselamatan dan Estetika Kota
Pejabat Baru Diminta Langsung Tancap Gas Layani Masyarakat
Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional
Kepercayaan Publik 72 Persen, MK Perkuat Integritas dan Transformasi Digital
Sorak Sorai Festival Dorong Lonjakan Transaksi Digital, Bank Raya Catat Ratusan Juta Transaksi
Promo Awal Tahun INFORMA, Belanja Furnitur Lebih Hemat dan Praktis
Baru Tiga Hari Tahun2026, Sebanyak 8.160 Pelaporan SPT: Coretax Ubah Perilaku Wajib Pajak
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:37 WIB

MoU Bank Tanah Jadi Titik Balik, Bengkulu Bangun Ekonomi dari Aset Sendiri

Senin, 12 Januari 2026 - 18:51 WIB

Pejabat Baru Diminta Langsung Tancap Gas Layani Masyarakat

Jumat, 9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Pilkada Dipilih Melalui DPRD Tidak Inskonstitusional

Rabu, 7 Januari 2026 - 19:39 WIB

Kepercayaan Publik 72 Persen, MK Perkuat Integritas dan Transformasi Digital

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:32 WIB

Sorak Sorai Festival Dorong Lonjakan Transaksi Digital, Bank Raya Catat Ratusan Juta Transaksi

Berita Terbaru

Walikota  Bengkulu Dedy Wahyudi, menyatakan Mars Kota Bengkulu ditetapkan sebagai lagu wajib dalam acara resmi. Pemkot Bengkulu menilai lagu ini sebagai strategi membangun identitas dan kebersamaan warga

Bengkulu

Mars Kota Bengkulu dan Strategi Membangun Identitas Daerah

Selasa, 13 Jan 2026 - 20:14 WIB