RAKYATMERAHPUTIH – Hujan deras pada Minggu (22/12/2025) tidak hanya menumbangkan sejumlah pohon dan membuat jalanan licin, tetapi juga meninggalkan kepanikan besar bagi warga di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Tanpa banyak tanda, air sungai yang berada di sekitar pemukiman tiba-tiba meluap, menembus halaman rumah dan merendam ruang tamu dalam hitungan menit. Delapan kelurahan terdampak, dan bagi sebagian warga, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan dalam hidup mereka.
Kelurahan Jalan Baru menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak. Air yang datang tiba-tiba membuat para orang tua sibuk menggendong balita, sementara barang elektronik seperti televisi dan kulkas terpaksa diangkat ke tempat tinggi. Di sana, sekitar 90 kepala keluarga terpaksa meninggalkan rumah sejenak ketika air mulai mencapai lutut.
“Kami tidak menduga air bisa sampai sebesar itu. Tiba-tiba naik,” ujar Fajar, seorang warga Jalan Baru yang rumahnya terendam lumpur hingga selutut.
Kelurahan Pasar Tengah dan Pasar Baru juga merasakan dampak signifikan. Warga saling membantu mengangkut perabotan dan mengikat motor agar tidak terseret arus. Lampu padam sempat terjadi selama beberapa jam, membuat evakuasi warga dilakukan hanya dengan bantuan cahaya ponsel dan senter. Anak-anak menangis ketakutan sementara orang tua berusaha tetap tenang.
Di Kampung Jawa, Sidorejo, Kepala Siring, Talang Rimbo Baru, hingga Air Bang, suasana hampir tidak berbeda. Di Air Bang, bencana bahkan bertambah dengan terjadinya longsor yang menutup akses jalan. Tak sedikit warga yang terisolasi dan harus menunggu tim BPBD datang membuka jalur dan memastikan distribusi logistik.
Sekretaris BPBD Provinsi Bengkulu, Khristian Hermasnyah, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi menjadi penyebab utama banjir.
“Dari laporan ada delapan kelurahan yang terdampak banjir akibat hujan Minggu kemarin yang membuat sungai meluap,” ungkapnya. Ia menyebutkan bahwa banjir ini bukan hanya karena hujan deras, tetapi juga karena kondisi geografis Rejang Lebong yang berada pada wilayah rawan ketika sungai meluap.
Meski banjir telah surut, warga kini dihadapkan pada pekerjaan berat: membersihkan lumpur, menjemur kasur, memperbaiki perabotan, serta menilai kerusakan. Di banyak tempat, aroma lumpur bercampur sampah menyengat. Posko bantuan sementara mulai berdiri. Sejumlah organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa bergerak membagikan makanan, air mineral, serta peralatan kebersihan.
Di balik musibah, tampak pula solidaritas. Pemuda setempat turun membantu relawan. Beberapa warga membuka rumah sebagai tempat pengungsian sementara. Ini menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat bisa bangkit dari bencana dengan kebersamaan.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Khristian menegaskan bahwa keluarga dengan balita dan lansia perlu mengutamakan pengungsian dini. Ia mengingatkan bahwa musim hujan baru saja mulai dan cuaca ekstrem masih berpotensi muncul dalam beberapa minggu ke depan.
Pemerintah kabupaten menjanjikan evaluasi sistem drainase dan normalisasi sungai. Warga berharap banjir bukan lagi peristiwa tahunan yang harus mereka terima begitu saja. Mereka ingin perlindungan, bukan sekadar imbauan.
Peristiwa banjir ini menjadi pelajaran bahwa bukan hanya infrastruktur yang diuji, tetapi juga ketangguhan warga dalam menghadapi situasi darurat. Bagi masyarakat Rejang Lebong, banjir kali ini bukan sekadar genangan air—melainkan kenangan pahit tentang kepanikan, tetapi juga harapan untuk perubahan.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









