RAKYATMERAHPUTIH – Di tengah duka yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh akibat banjir serta longsor beruntun, gelombang kepedulian mengalir dari segala penjuru. Dari Bengkulu, dukungan datang bukan hanya berupa tumpukan logistik, tetapi juga penguatan moral bahwa sesama anak bangsa tidak pernah sendiri saat bencana menghadang.
Pada Selasa pagi, suasana halaman Masjid Raya Baitul Izzah berubah menjadi titik haru ketika Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, melepas keberangkatan bantuan kemanusiaan. Sebanyak 100 unit ambulans, beras, sembako, makanan cepat saji, dan pakaian layak pakai disiapkan menuju tiga provinsi terdampak. Di balik jumlah itu, tersimpan pesan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada kata-kata.
Helmi berdiri di hadapan ratusan relawan dari Basarnas, Tagana, tenaga kesehatan, hingga berbagai unsur masyarakat memberikan nasihat sebelum mereka berangkat.
“Jangan kebut-kebutan, salat tepat waktu, dan jaga nama baik Provinsi Bengkulu. Kalau ngantuk, istirahat. Yang berangkat baik, yang didatangi juga baik,” ucapnya, menekankan bahwa keselamatan relawan adalah bagian dari misi kemanusiaan itu sendiri.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Bengkulu, Swifanedi, menjelaskan bahwa relawan akan dibagi ke tiga titik terdampak, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Tugas mereka tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga membantu evakuasi warga, terutama di daerah yang masih terkendala akses karena longsoran dan tingginya debit air.
“Beras yang dibawa akan langsung dibagikan ke masyarakat. Di lokasi nanti, kebutuhan pokok akan kembali kita tambah dengan membeli dari daerah setempat agar roda ekonomi masyarakat tetap bergerak,” katanya.
Langkah itu sekaligus menjadi strategi yang memungkinkan bantuan terus mengalir tanpa membebani rantai distribusi. Dalam bencana berskala besar, fleksibilitas seperti ini menjadi penting agar masyarakat tetap dapat mengakses kebutuhan harian.
Kepedulian Bengkulu tak berhenti pada bantuan fisik. Beriringan dengan rombongan relawan, dukungan masyarakat Bengkulu terus mengalir melalui Baznas Provinsi Bengkulu, yang hingga kini mencatat donasi mencapai Rp4,3 miliar. Dana tersebut disalurkan bertahap untuk mendukung penanganan jangka panjang, mulai dari pemulihan hunian hingga kebutuhan penyintas di pos-pos pengungsian.
Helmi Hasan dijadwalkan terjun langsung ke lokasi bencana dalam waktu dekat. Kehadirannya menjadi simbol bahwa negaramelalui pemerintah daerah memastikan bantuan benar-benar tiba di tangan yang membutuhkan. “Ini komitmen Bengkulu. Kita tidak hanya mengirim bantuan, tetapi mendampingi hingga proses pemulihan,” ujar Swifanedi.
Bencana yang menimpa Sumbar, Sumut, dan Aceh bukan hanya soal kerusakan fisik. Ia membawa ketidakpastian, kecemasan, dan kehilangan yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Kehadiran relawan Bengkulu menjadi pengingat bahwa di tengah tantangan, masih ada banyak tangan yang bersedia bekerja tanpa pamrih.
Dalam konteks lebih luas, pergerakan bantuan ini memperlihatkan bahwa isu kemanusiaan melampaui batas administratif dan politik. Ketika saudara di provinsi tetangga dilanda musibah, solidaritas menjadi jembatan yang menyatukan ke
mbali rasa kebangsaan.









