RAKYATMERAHPUTIH – Pelantikan 2.297 PPPK Paruh Waktu di Bengkulu Utara bukan sekadar agenda seremonial. Di balik barisan rapi para honorer, terselip kisah-kisah pengabdian panjang, salah satunya datang dari seorang guru desa bernama Buhari.
Buhari telah mengabdikan hidupnya selama 16 tahun sebagai tenaga pendidik. Dengan honor Rp300 ribu per bulan, ia tetap bertahan mengajar di Desa Pematang Balam. Tidak ada keluhan, tidak ada tuntutan. Hanya kesetiaan.
Hari pelantikan itu menjadi titik balik. Negara akhirnya mengakui perannya. SK PPPK Paruh Waktu menjadi simbol bahwa pengabdian, meski dilakukan dalam senyap, tetap bernilai.
Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, menyebut PPPK sebagai tulang punggung pelayanan publik ke depan.
“Kami berharap PPPK membawa perubahan nyata bagi kinerja pemerintah daerah,” ujarnya.
Buhari mungkin tak memikirkan kebijakan besar. Ia hanya ingin tetap mengajar hingga akhir masa tugasnya. Bagi dirinya, mendidik anak desa adalah panggilan hidup.
Pelantikan ini menjadi momentum penting, bukan hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga bagi para honorer yang selama ini berada di garis sunyi pelayanan publik.
Kisah Buhari adalah pengingat: pembangunan tidak hanya soal jalan dan gedung, tetapi juga tentang manusia yang setia menjaga masa depan bangsa dari ruang kelas sederhana.









