RAKYATMERAHPUTIH – Hiruk pikuk Car Free Night (CFN) di Belungguk Point bukan hanya soal nongkrong. Di balik ramainya anak muda dan pengunjung, geliat ekonomi kecil ikut bergerak. Puluhan pelaku UMKM memanfaatkan momentum ini untuk mencari nafkah.
Deretan pedagang kuliner tampak berjejer rapi. Mulai dari jajanan tradisional, minuman kekinian, hingga makanan ringan favorit Gen Z. Malam Minggu yang dulu sepi, kini berubah menjadi “pasar malam modern”.
Salah satu pedagang mengaku omzetnya meningkat sejak CFN rutin digelar.
“Kalau malam Minggu bisa dua kali lipat dibanding hari biasa. Ramai terus sampai malam,” katanya.
Antusiasme pengunjung membuat perputaran uang terjadi cepat. Anak muda yang datang nongkrong hampir selalu membeli makanan atau minuman. Ini menjadi keuntungan besar bagi UMKM lokal.
Sofia Andesta mengaku CFN membuatnya lebih sering jajan produk lokal.
“Banyak pilihan, harganya juga terjangkau. Jadi sekalian nongkrong, sekalian jajan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Bengkulu melihat CFN sebagai strategi menghidupkan ekonomi rakyat. Wali Kota Dedy Wahyudi mendorong agar ruang publik tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat kecil.
Konsep ini dinilai tepat. UMKM tidak perlu menyewa tempat mahal. Cukup memanfaatkan ruang publik yang tertata, mereka sudah bisa menjangkau pasar yang luas.
Selain berdampak ekonomi, CFN juga menciptakan rasa aman dan nyaman. Pengaturan lalu lintas, kebersihan, dan keamanan membuat pengunjung betah berlama-lama.
Dengan kombinasi ruang publik, hiburan, dan ekonomi rakyat, CFN Belungguk Point kini menjadi contoh bagaimana kota bisa hidup di malam hari tanpa kehilangan identitas dan keteraturan.
Malam Minggu di Bengkulu tak lagi sekadar lewat. Ia kini menjadi denyut ekonomi baru bagi warga kota.









