BENGKULUBAROMETER – Gelombang kepedulian terhadap lingkungan kembali digaungkan oleh kalangan mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Prof. Dr. Hazairin (UNIHAZ) menggelar diskusi publik bertema “Peran Anak Muda dalam Mendorong Mitigasi Bencana Ekologis dan Krisis Iklim”, Kamis (30/4/2026), di Gedung Serba Guna UNIHAZ.
Kegiatan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan mahasiswa, masyarakat, organisasi kepemudaan, NGO, hingga pecinta alam se-Bengkulu dalam satu forum diskusi terbuka. Suasana penuh semangat terlihat sejak awal acara, yang diawali dengan lagu Indonesia Raya, Himne UNIHAZ, hingga lagu perjuangan Darah Juang.
Ketua panitia, M. Reza Syaputra, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar diskusi biasa, tetapi bagian dari gerakan nyata mahasiswa dalam menjaga lingkungan.
“Mitigasi bencana ekologis bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Mahasiswa harus ambil peran serius dalam menjaga alam,” tegas Reza.
Hal senada disampaikan Presiden Mahasiswa UNIHAZ, Pajar Pratama Putra, yang mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia berharap diskusi ini menjadi langkah awal konsolidasi gerakan mahasiswa dalam menghadapi krisis iklim.
Sementara itu, Rektor UNIHAZ, Dr. Arifah Hidayati, SE., MM., secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa peran pemuda sangat penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Ini adalah langkah nyata anak muda. Kita semua punya tanggung jawab menjaga lingkungan dan mencegah bencana ekologis,” ujar Arifah.
Diskusi dipandu oleh Doni Wijaya dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu. Ia mengingatkan bahwa krisis iklim yang terjadi saat ini tidak lepas dari ulah manusia.
“Bencana ekologis yang terjadi hari ini adalah akibat keserakahan manusia. Bahkan, seringkali pemerintah terkesan lambat merespons,” kritiknya.
Dalam sesi pemaparan materi, berbagai perspektif disampaikan para narasumber. Nosi Winda Putri dari komunitas Perempuan Sungai Lemau mengungkapkan kondisi nyata yang dialami masyarakat di wilayah pesisir.
“Kami hidup dari sungai. Sekarang kondisinya berubah. Abrasi makin parah. Kami takut rumah kami hilang saat hujan dan ombak besar datang,” ungkapnya.
Dari sisi lingkungan, Uli Arta Siagian dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai Bengkulu menjadi contoh nyata krisis ekologis yang terjadi akibat lemahnya tata kelola lingkungan.
“Kerusakan Sungai Lemau adalah bukti kegagalan negara. Ini bukan persoalan biasa, tapi krisis serius yang dibiarkan berlarut,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan secara parsial.
“Harus ada kolaborasi semua pihak. Kami di DPRD akan mendorong perencanaan tata ruang yang lebih baik, khususnya di wilayah terdampak seperti Pondok Kelapa,” ujarnya.
Dari sisi kebencanaan, BPBD Provinsi Bengkulu melalui M. Syukur menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
“Kita harus menerapkan konsep triple helix. Semua pihak harus bersinergi untuk mencegah bencana ekologis,” jelasnya.
Sementara itu, akademisi UNIHAZ, Rendra Edward Fransioko, menyoroti pentingnya penegakan hukum dalam menjaga lingkungan.
“Konstitusi menjamin hak masyarakat atas lingkungan yang sehat. Namun, implementasinya masih lemah. Ini yang harus diperbaiki,” tegasnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Mahasiswa активно mengajukan pertanyaan dan berdiskusi hingga acara ditutup sekitar pukul 13.20 WIB.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi dari panitia.
Diskusi publik ini menjadi sinyal kuat bahwa anak muda Bengkulu mulai mengambil peran strategis dalam menghadapi krisis iklim dan bencana ekologis. Tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai penggerak perubahan.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









