RAKYATMERAHPUTIH – Di tengah padatnya agenda pemerintahan, Retreat Merah Putih hadir sebagai ruang sunyi untuk merenung. Salah satu momen paling berkesan terjadi pada Sabtu subuh (3/1/2026), saat Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menyambangi peserta retreat di Masjid Nurul Islam, Anggut Bawah.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda resmi. Di bawah langit pagi yang masih temaram, Helmi mengajak peserta untuk kembali menata niat hidup dan pengabdian. Ia menekankan bahwa iman adalah fondasi utama dalam menjalani peran sebagai aparatur negara.
Menurut Helmi, iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara bekerja, mengambil keputusan, dan melayani masyarakat. Ia menyebut hijrah sebagai proses penting dalam membangun pribadi yang lebih baik.
“Hijrah itu berani berubah. Berani meninggalkan yang salah menuju yang benar,” ujarnya.
Retreat Merah Putih dirancang sebagai proses pembentukan karakter. Peserta diajak untuk tidak hanya mendengar materi, tetapi juga merenung, berdiskusi, dan merasakan langsung makna kebersamaan serta keikhlasan.
Kelompok 5, yang dipimpin drg. Edriwan Mansyur, menjadi salah satu kelompok yang merasakan dampak kuat dari kegiatan ini. Dengan peserta dari dua dinas berbeda, mereka belajar tentang kerja tim, empati, dan tanggung jawab bersama.
Edriwan mengaku, retreat ini membuka mata banyak peserta tentang pentingnya menjaga iman dalam rutinitas kerja yang sering kali melelahkan.
“Kami diingatkan bahwa iman bisa naik dan turun. Kalau tidak dijaga, amal juga ikut turun,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa Retreat Merah Putih mengajarkan peserta untuk berpikir lebih luas. Tidak hanya soal kepentingan pribadi, tetapi juga kepentingan umat dan masyarakat secara keseluruhan.
Bagi banyak peserta, subuh bersama gubernur itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Mereka melihat langsung contoh pemimpin yang hadir, mendengar, dan mengajak dengan keteladanan, bukan sekadar instruksi.
Retreat Merah Putih menunjukkan bahwa membangun daerah tidak selalu harus dengan pidato besar atau proyek mahal. Terkadang, perubahan justru lahir dari keheningan subuh, dari doa yang tulus, dan dari keberanian untuk berhijrah menuju kebaikan









