RAKYATMERAHPUTIH – Upaya regenerasi penerbang militer nasional mulai menyentuh bangku sekolah. Dua pelajar asal Kabupaten Bengkulu Utara masuk radar pembinaan TNI setelah dinilai memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Langkah ini menunjukkan perubahan strategi pertahanan yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi utama.
Muhammad Rafly Azmi Putra dari SMA Negeri 2 Bengkulu Utara dan Alvin Andra Aulia Bintang dari MAN 1 Bengkulu Utara dipilih untuk mengikuti agenda pengenalan dunia penerbangan militer. Keduanya akan diterbangkan ke Wadebay, Maluku, menyaksikan latihan terintegrasi TNI AU yang melibatkan berbagai unsur alutsista udara.
Dandim 0423 Bengkulu Utara, Letkol Czi Muhamad Jumali, menjelaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arahan Panglima TNI dan Presiden. Negara, kata dia, membutuhkan penerbang dengan kombinasi kecerdasan tinggi, karakter kuat, serta nasionalisme yang teruji sejak dini.
“Pembinaan ini adalah investasi jangka panjang,” ujarnya.
Pemilihan pelajar dengan IQ di atas 120 menegaskan bahwa dunia pertahanan modern menuntut penguasaan teknologi tinggi. Pesawat tempur generasi baru, sistem navigasi canggih, dan operasi terintegrasi membutuhkan pilot yang mampu berpikir cepat, akurat, dan adaptif. Karena itu, penjaringan tidak lagi menunggu usia dewasa, melainkan dimulai dari fase pendidikan menengah.
Komunikasi dengan orang tua menjadi bagian penting dari proses. TNI memastikan bahwa pembinaan dilakukan secara bertahap dan tidak mengganggu hak pendidikan. “Kami sampaikan gambaran masa depan secara transparan. Keputusan tetap pada anak dan keluarga,” kata Jumali.
Pengamat pendidikan menilai langkah ini positif sepanjang dilakukan dengan prinsip perlindungan anak dan keberlanjutan pendidikan. Program pengenalan profesi, menurut mereka, justru dapat memotivasi siswa untuk menjaga prestasi dan disiplin. Bengkulu Utara dinilai beruntung menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian dalam peta pembinaan nasional.
Di sisi lain, pemerintah daerah melihat peluang ini sebagai pengungkit citra pendidikan. Sekolah diharapkan semakin serius mengembangkan potensi sains, matematika, dan karakter. Kolaborasi dengan TNI juga dapat membuka ruang literasi kebangsaan yang lebih luas bagi siswa.
Bagi Rafly dan Alvin, kesempatan ini menjadi titik balik. Mereka akan menyaksikan langsung latihan udara yang menuntut presisi dan kerja tim tingkat tinggi. Pengalaman tersebut diyakini menanamkan kesadaran bahwa menjadi penerbang TNI bukan sekadar profesi, melainkan panggilan pengabdian.
Langkah TNI menyasar pelajar berprestasi ini menandai era baru pembinaan pertahanan. Dari ruang kelas di Bengkulu Utara, benih penjaga langit Indonesia mulai ditumbuhkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









