RAKYATMERAHPUTIH – Kondisi inflasi di Provinsi Bengkulu hingga akhir tahun 2025 masih berada dalam kategori aman. Inflasi tercatat sebesar 2,77 persen secara tahunan (year on year), sesuai dengan target nasional yang ditetapkan pemerintah pusat.
Namun, pemerintah daerah mengingatkan bahwa tantangan pengendalian inflasi ke depan masih cukup besar, terutama pada sektor pangan. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Capacity Building TPID Provinsi Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu, Senin 26 Januari 2026.
Pj Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, mengatakan bahwa inflasi pangan menjadi perhatian utama karena sangat dipengaruhi oleh permintaan masyarakat dan keterbatasan sentra produksi.
“Komoditas seperti cabai dan daging ayam ras masih rawan mengalami lonjakan harga. Ini perlu diantisipasi sejak dini,” ujar Herwan.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat seiring pemulihan ekonomi dapat mendorong naiknya permintaan bahan pokok. Jika pasokan tidak mencukupi, harga di pasar akan mudah bergejolak.
Untuk itu, TPID diminta terus memperkuat sinergi dengan program nasional, khususnya Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program ini mendorong daerah agar lebih mandiri dalam menjaga pasokan pangan strategis.
Pemerintah Provinsi Bengkulu mendorong agar TPID terus melakukan inovasi, termasuk memperkuat data harga, memperluas kerja sama antardaerah, dan mengembangkan produksi pangan lokal.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Bengkulu tidak hanya mampu menjaga inflasi tetap rendah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah dalam jangka panjang.
“Pengendalian inflasi bukan pekerjaan satu hari. Ini adalah kerja berkelanjutan demi melindungi daya beli masyarakat,” pungkas Herwan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyatakan bahwa keberhasilan pengendalian inflasi harus dirasakan hingga ke tingkat kabupaten dan kota.
“Stabilitas harga di tingkat provinsi harus diikuti oleh stabilitas di daerah. Masyarakat di pasar harus benar-benar merasakan manfaatnya,” kata Wahyu.
Melalui kegiatan capacity building, TPID kabupaten dan kota dibekali pemahaman tentang pelaporan singkat atau one page summary serta penyusunan program unggulan yang fokus pada kebutuhan daerah masing-masing.
Menurut Wahyu, pelaporan yang ringkas dan terarah akan memudahkan pengambilan keputusan dalam menghadapi potensi gejolak harga.
Herwan Antoni menambahkan bahwa pengendalian inflasi juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pada triwulan III 2025, ekonomi Bengkulu tumbuh sebesar 4,56 persen, menunjukkan tren positif.
“Pertumbuhan ekonomi yang baik harus dijaga dengan stabilitas harga. Kalau harga tidak stabil, masyarakat akan paling terdampak,” ujarnya.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









