RAKYATMERAHPUTIH – Tragedi yang merenggut nyawa seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Kelurahan Tengah Padang, Kota Bengkulu, menjadi peringatan penting bagi masyarakat tentang kesehatan mental. MR ditemukan meninggal dunia pada dini hari, bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Kejadian itu diketahui keluarga saat hendak melaksanakan ibadah Subuh. Kepanikan pun terjadi dan segera dilaporkan ke aparat. Polresta Bengkulu bersama tim Inafis turun ke lokasi untuk memastikan prosedur penanganan berjalan sesuai ketentuan.
Setelah pemeriksaan awal, jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Bengkulu untuk visum luar. Keluarga menolak autopsi lanjutan dan memilih pemakaman dilakukan secepatnya di TPU sekitar rumah.
Di balik peristiwa ini, warga setempat mengenal korban sebagai mahasiswa yang sopan dan tidak pernah bermasalah. Ia juga kerap membantu ibunya berjualan sembako. Tidak ada tanda-tanda mencolok yang mengisyaratkan masalah besar, menurut pengakuan warga.
“Anaknya penurut dan biasa bantu orang tua berjulan,” kata Ketua RT 13, Heryanti Murti.
Dibalik duka mendalam ini menjadikan peristiwa semacam ini harus menjadi momentum memperkuat jejaring dukungan kesehatan mental, khususnya bagi generasi muda. Tekanan akademik, ekonomi, dan sosial sering kali berkelindan tanpa disadari lingkungan sekitar.
Semua berharap pemerintah daerah dan institusi pendidikan memperluas program edukasi kesehatan mental, termasuk literasi emosi dan rujukan layanan profesional. Upaya pencegahan berbasis komunitas dinilai efektif untuk mengurangi risiko tragedi serupa.









