Walhi Desak RTRW Bengkulu Tengah Berbasis Iklim Demi Selamatkan Pesisir

- Jurnalis

Senin, 26 Januari 2026 - 22:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

RAKYATMERAHPUTIH – Isu abrasi di Desa Pondok Kelapa tidak hanya menyangkut bencana alam, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan tata ruang. Karena itu, Walhi Bengkulu mendesak agar revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bengkulu Tengah 2025–2030 disusun berbasis perubahan iklim.

Desakan tersebut disampaikan dalam aksi bentang spanduk di muara Sungai Lemau, Desa Pondok Kelapa, Senin (26/1/2026).

Koordinator Walhi Bengkulu, Dodi Faisal, mengatakan bahwa RTRW yang tidak mempertimbangkan risiko perubahan iklim akan memperparah kerentanan wilayah pesisir.

Baca Juga :  Tingkatkan Layanan Pelabuhan, Pelindo Bengkulu Perkuat Infrastruktur Pulau Baai dan Atasi Kendaraan ODOL

“Kalau RTRW tidak berpihak pada keselamatan warga, maka abrasi akan terus memakan daratan,” ujarnya.

Menurutnya, petunjuk teknis dari Kementerian ATR/BPN sudah jelas mengatur pentingnya memasukkan faktor perubahan iklim dalam perencanaan wilayah. Hal ini bertujuan mengurangi risiko bencana seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan laut.

Walhi meminta agar masyarakat terdampak dilibatkan langsung dalam proses revisi RTRW. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.

“Warga pesisir paling tahu dampak abrasi. Suara mereka harus didengar,” tegas Dodi.

Baca Juga :  Dinas Koperasi Akan Benahi Belungguk Point, Pedagang Tak Aktif Terancam Diganti

Ia menambahkan bahwa abrasi yang melanda pesisir Bengkulu sudah mencapai 525 kilometer. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Walhi menilai bahwa penyelamatan pesisir harus menjadi prioritas pembangunan. Bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun sistem perlindungan pantai dan pemulihan ekosistem.

Dengan RTRW berbasis iklim, pemerintah diharapkan dapat menentukan zona aman permukiman, kawasan lindung pesisir, serta area rawan bencana yang tidak boleh dijadikan lokasi pembangunan.

 

Berita Terkait

 Keluarga ASN yang Harmonis Jadi Perhatian DWP Bengkulu
Bekal dari Pelabuhan untuk Kampus, GM Pelindo Bengkulu Ajak Mahasiswa UNIB Bermimpi Besar
Dorong Tata Kelola Transparan, Kejati Bengkulu dan Pelindo Lanjutkan Kerja Sama Hukum
Pemprov Bengkulu Matangkan Verval KDMP, Siapkan Penandatanganan Serentak
Kekerasan Anak Tak Hanya Luka Fisik, Kejati Bengkulu Ajak Masyarakat Lebih Peka
Truk Batu Bara Tak Lewat Padang Serai, Pemprov Bengkulu Siapkan Kajian Jalur Khusus
Stok Pemerintah Makin Kuat, BULOG Genjot Penyerapan Hasil Panen Petani
PHRI Bengkulu Warning Satpol PP soal Sidak Hotel: Jangan Tanya Izin di Lapangan
Berita ini 104 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:14 WIB

 Keluarga ASN yang Harmonis Jadi Perhatian DWP Bengkulu

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Bekal dari Pelabuhan untuk Kampus, GM Pelindo Bengkulu Ajak Mahasiswa UNIB Bermimpi Besar

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Dorong Tata Kelola Transparan, Kejati Bengkulu dan Pelindo Lanjutkan Kerja Sama Hukum

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Pemprov Bengkulu Matangkan Verval KDMP, Siapkan Penandatanganan Serentak

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Kekerasan Anak Tak Hanya Luka Fisik, Kejati Bengkulu Ajak Masyarakat Lebih Peka

Berita Terbaru

Bengkulu

 Keluarga ASN yang Harmonis Jadi Perhatian DWP Bengkulu

Selasa, 27 Okt 2026 - 16:14 WIB